watermarked img 5419334670751016036

Memulai Kembali di Usia 33 dari Iman, Melepaskan, dan Percaya pada Masa Depan

This content is blocked because it would connect to YouTube.

 

Awal tahun 2026 saya berkesempatan untuk hadir di channel Youtube Jonathan Khubani. Di sana saya bercerita tentang banyak hal termasuk perjalanan di usia 33 tahun yang mengubah banyak hal. Tentang masa dalam hidup kita harus menerima bahwa sesuatu yang pernah kita pikir akan berlangsung selamanya ternyata harus berakhir.

Perceraian, menjadi seorang single mother, dan harus membangun kembali karier membuat saya belajar bahwa memulai kembali bukan berarti kita gagal. Ada banyak hal yang harus dilepaskan, termasuk kehidupan yang pernah saya bayangkan, tetapi satu hal yang tidak pernah saya lepaskan adalah iman. Iman bukan sesuatu yang baru saya temukan ketika semuanya menjadi sulit. Justru sejak awal, iman adalah tempat saya berdiri ketika saya belum tahu ke mana langkah berikutnya akan membawa saya.

Dalam percakapan saya bersama Jonathan Khubani di podcast ini, saya berbagi tentang proses membangun kembali hidup tanpa membiarkan masa lalu menentukan siapa saya. Ada pilihan untuk terus tinggal di dalam apa yang sudah terjadi, mempertanyakan keputusan-keputusan yang pernah dibuat, atau perlahan belajar menerima bahwa hidup memang memiliki cara sendiri untuk membawa kita ke tempat yang baru. Saya memilih untuk berjalan. Bukan karena saya sudah memiliki semua jawabannya, tetapi karena saya percaya bahwa tidak semua hal harus kita pahami terlebih dahulu untuk bisa melangkah. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah cukup iman untuk mengambil satu langkah berikutnya.

Mungkin ada saatnya kita merasa terlambat, merasa tertinggal, atau harus membangun kembali sesuatu yang orang lain sudah lebih dulu miliki. Tetapi hidup bukan perlombaan tentang siapa yang sampai lebih dulu. Ada perjalanan yang memang harus kita tempuh dengan cara kita sendiri. Dan jika saat ini kamu sedang membangun kembali hidupmu dalam diam, sedang belajar melepaskan, atau sedang mencoba percaya meski belum tahu apa yang ada di depan, semoga percakapan ini mengingatkanmu pada satu hal: apa yang ada di belakangmu bukanlah batas dari apa yang masih mungkin terjadi di depanmu.