Dulu saya berpikir bahwa kepemimpinan terutama tentang mengetahui ke mana kita akan pergi dan memastikan semua orang tahu bagaimana cara mencapainya. Seiring waktu, saya menyadari bahwa kepemimpinan juga tentang kesediaan untuk berubah di sepanjang perjalanan. Bekerja bersama Gen Z mengajarkan saya bahwa salah satu kualitas terpenting seorang pemimpin adalah kemauan untuk mendengarkan. Mereka bertanya, mempertanyakan asumsi, dan sering kali melihat sesuatu yang sudah sangat familiar dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Perbedaan itu mungkin terasa tidak nyaman pada awalnya. Tetapi saya belajar, rasa tidak nyaman sering kali menjadi guru yang baik.
Gen Z mengingatkan saya bahwa orang tidak lagi hanya ingin diberi tahu apa yang harus dilakukan. Mereka ingin memahami mengapa. Mereka ingin tahu bahwa gagasan mereka dihargai, suara mereka didengar, dan mereka dipercaya untuk memiliki tanggung jawab atas pekerjaannya. Bukan berarti seorang pemimpin harus selalu mengatakan iya. Tetap ada standar yang harus dijaga, keputusan sulit yang harus diambil, dan situasi ketika saya harus bersikap tegas. Namun, saya belajar bahwa tegas dan hangat bukanlah dua hal yang bertentangan. Kita bisa menetapkan batas sekaligus membuat seseorang tetap merasa dihargai.

Bagi saya, akuntabilitas juga selalu dimulai dari diri sendiri. Jika saya berharap tim berani bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan, saya harus melakukan hal yang sama. Ketika saya salah, saya tidak ragu untuk meminta maaf. Saya tidak melihat permintaan maaf sebagai sesuatu yang mengurangi wibawa seorang pemimpin. Sebaliknya, menurut saya, keberanian untuk mengakui kesalahan justru menunjukkan kekuatan dan kedewasaan. Menjadi pemimpin bukan berarti memiliki semua jawaban. Menjadi pemimpin berarti berani bertanggung jawab, belajar, dan terus bergerak maju—sekaligus memberikan ruang yang sama kepada orang-orang di sekitar kita untuk bertumbuh.
Beberapa orang yang bekerja bersama saya, termasuk mereka yang berasal dari Gen Z, memanggil saya “mommy”. Saya tentu menganggapnya sebagai sebuah panggilan yang menyenangkan, tetapi saya juga memahami ada makna di baliknya. Saya berharap itu berarti mereka melihat saya sebagai seseorang yang akan menantang mereka ketika memang perlu ditantang, tetapi juga seseorang yang bisa mereka datangi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Saya tidak ingin melindungi orang dari setiap kesalahan. Saya ingin memberi mereka cukup dukungan dan kepercayaan untuk belajar dari kesalahan tersebut. Karena terkadang, bentuk kepedulian terbaik bukanlah membuat perjalanan seseorang menjadi lebih mudah, melainkan membantunya menjadi lebih kuat.
Mungkin, inilah pelajaran terbesar yang saya dapatkan dari bekerja bersama Gen Z: kepemimpinan bukan tentang menciptakan orang-orang yang akan selalu membutuhkan kita. Kepemimpinan adalah tentang membantu seseorang hingga ia mampu memimpin dirinya sendiri. Peran saya bukan menjadi orang dengan suara paling keras di dalam ruangan, atau selalu memiliki jawaban terakhir. Terkadang, peran saya adalah mendengarkan. Terkadang, mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Terkadang, berdiri di depan. Dan terkadang, mundur selangkah agar orang lain mendapatkan ruang untuk memimpin.
Jadi, saat ditanya bagaimana rasanya bekerja dengan Gen-Z? Jawabnya adalah seru!
