downloadgram.org 603942651 18548567389008938 2363697439494255184 n

Kepemimpinan Dimulai dari Mendengarkan

Namun, semakin banyak pengalaman yang saya lalui, semakin saya menyadari bahwa komunikasi yang baik justru dimulai jauh sebelum kita berbicara. Ia dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan.

Dalam perjalanan karier saya, ada banyak situasi yang menuntut keputusan cepat. Ada masa ketika sebuah isu berkembang dalam hitungan menit. Ada percakapan dengan media, diskusi dengan para pemangku kepentingan, hingga rapat internal yang dipenuhi beragam sudut pandang. Di tengah dinamika seperti itu, insting pertama sering kali adalah segera memberikan jawaban.

Padahal, tidak semua keadaan membutuhkan jawaban yang cepat. Beberapa justru membutuhkan seseorang yang mau berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan.

Ada Banyak Hal yang Berbeda di Ruang Rapat

Setiap orang membawa cerita yang berbeda ke dalam ruang rapat. Seseorang mungkin terlihat menolak sebuah ide, padahal ia sedang mengkhawatirkan risiko yang belum kita lihat. Ada yang memilih diam bukan karena tidak peduli, melainkan karena belum merasa cukup aman untuk menyampaikan pendapatnya.

Jika kita hanya sibuk menyiapkan respons, kita sering kehilangan kesempatan untuk memahami. Mungkin itulah salah satu pelajaran terbesar yang saya temukan tentang kepemimpinan.

Menjadi pemimpin bukan berarti menjadi orang yang paling banyak berbicara. Justru sering kali, seorang pemimpin perlu menjadi orang yang paling banyak mendengar.

Saya pernah bekerja dengan orang-orang yang luar biasa cerdas. Mereka memiliki ide yang segar, perspektif yang berbeda, dan pengalaman yang mungkin tidak saya miliki. Sebagai pemimpin, saya tidak pernah melihat perbedaan itu sebagai ancaman. Sebaliknya, saya percaya bahwa tugas saya adalah menciptakan ruang agar semua suara memiliki kesempatan untuk didengar.

Ide Terbaik tak Selalu Datang dari Orang Penting

Percaya tidak, jika ide terbaik tidak selalu datang dari orang yang duduk di posisi tertinggi? Ia bisa datang dari siapa saja yang merasa cukup dihargai untuk berbicara.

Hal yang sama juga saya pelajari sebagai seorang ibu.

Anak-anak tidak selalu membutuhkan solusi dari orangtuanya. Ada kalanya mereka hanya ingin didengarkan tanpa langsung dihakimi atau diberi nasihat. Semakin mereka bertumbuh, saya menyadari bahwa mendengarkan adalah salah satu cara paling sederhana untuk menunjukkan bahwa kita percaya kepada mereka.

Ternyata, prinsip itu juga berlaku di tempat kerja. Ketika seseorang merasa didengar, ia akan lebih mudah percaya. Ketika ada kepercayaan, kolaborasi tumbuh dengan lebih alami. Dan ketika kolaborasi hadir, hasil yang baik biasanya mengikuti.

Masih ada hari-hari ketika saya terlalu cepat mengambil kesimpulan. Masih ada momen ketika saya berpikir saya sudah memahami, padahal saya baru mendengar sebagian cerita. Pengalaman-pengalaman itulah yang mengingatkan saya untuk tetap rendah hati.

Karena mendengarkan bukanlah keterampilan yang selesai dipelajari dalam satu waktu. Ia adalah pilihan yang perlu kita ambil, setiap hari. Saya percaya bahwa orang mungkin akan melupakan apa yang kita katakan dalam sebuah rapat atau presentasi. Namun mereka akan mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat kita.

Apakah mereka merasa dihargai.

Apakah mereka merasa aman untuk menyampaikan pendapat.

Apakah mereka merasa didengarkan.

Bagi saya, di situlah kepemimpinan sesungguhnya dimulai. Bukan dari suara yang paling lantang, melainkan dari hati yang bersedia mendengar.