Untuk aku 20 tahun yang lalu.
Jika hari ini aku bisa duduk di sebelahmu, mungkin hal pertama yang ingin aku katakan adalah: terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Kamu mungkin belum tahu akan menjadi siapa dirimu dua puluh tahun dari sekarang. Kamu belum tahu tentang berbagai kesempatan yang akan datang, orang-orang yang akan kamu temui, keputusan-keputusan besar yang harus kamu ambil, juga jalan-jalan yang ternyata tidak selalu sesuai dengan rencana. Di usia itu, mungkin kamu hanya sedang mencoba mencari tempatmu di dunia—belajar bekerja, belajar menjadi perempuan dewasa, belajar mempercayai kemampuanmu sendiri. Kamu mungkin belum menyadari bahwa langkah-langkah kecil yang kamu ambil hari ini, termasuk hari-hari ketika kamu merasa tidak cukup baik, sedang membentuk fondasi untuk perempuan yang kelak akan kamu kenal sebagai dirimu sendiri.
Dua puluh tahun kemudian, aku ingin kamu tahu bahwa banyak hal yang dulu hanya menjadi harapan akhirnya menjadi nyata. Kamu tumbuh menjadi seorang pemimpin komunikasi, dipercaya untuk membawa suara sebuah perusahaan, bekerja bersama banyak orang, menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada yang pernah kamu bayangkan. Ada pencapaian, penghargaan, kepercayaan, dan berbagai kesempatan yang membuatmu melihat kembali perjalanan ini dengan rasa syukur. Tapi kalau ada satu hal yang ingin aku luruskan, semua itu bukan semata-mata karena aku yang sekarang lebih hebat. Aku sampai di sini karena kamu yang dulu tidak menyerah. Karena kamu berani memulai ketika belum tahu hasilnya. Karena kamu mau belajar ketika belum merasa siap. Karena kamu tetap berjalan bahkan ketika tidak ada yang bisa menjamin bahwa jalan itu akan membawamu ke tempat yang kamu inginkan.
Dan di sepanjang perjalanan itu, ada satu kekuatan yang mungkin belum sepenuhnya kamu sadari: Ibu. Ada doa yang tidak selalu terdengar, ada dukungan yang mungkin terasa sederhana, ada keyakinan yang diberikan bahkan ketika kamu sendiri sedang meragukan dirimu. Ibu mungkin tidak selalu punya semua jawaban untuk perjalananmu, tetapi kehadirannya menjadi semacam rumah—tempat kamu tahu bahwa sejauh apa pun kamu pergi, ada seseorang yang percaya bahwa kamu akan baik-baik saja. Banyak dari keberanianmu hari ini tumbuh dari rasa aman yang dulu ia tanamkan tanpa banyak bicara. Dari cara Ibu mengajarkanmu untuk berdiri, untuk bertanggung jawab atas pilihanmu, untuk tetap kuat tanpa kehilangan kelembutan. Dan semakin dewasa aku, semakin aku mengerti: ada bagian dari setiap pencapaianku yang sesungguhnya juga merupakan buah dari cinta dan pengorbanannya.
Tapi perjalananmu tidak selalu indah, Astrid. Akan ada hari ketika kamu gagal. Ada keputusan yang keliru, hubungan yang berubah, kesempatan yang terlewat, dan masa-masa ketika kamu mempertanyakan apakah semua kerja kerasmu benar-benar berarti. Akan ada saat ketika kamu merasa harus selalu kuat karena banyak orang bergantung padamu. Jangan takut pada hari-hari itu. Jangan menganggapnya sebagai bagian yang harus disembunyikan dari ceritamu. Justru di sanalah kamu akan belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah jatuh. Menjadi kuat berarti tahu bagaimana bangkit, mengambil pelajaran, dan tetap memilih untuk menjadi manusia yang baik setelah melewati semuanya. Suatu hari nanti, kamu akan memahami bahwa pencapaian terbesar bukan hanya tentang seberapa tinggi kamu bisa naik, tetapi tentang perempuan seperti apa yang kamu pilih untuk menjadi sepanjang perjalanan.
Jadi, untuk nikmati proses menjadi seseorang. Percayalah pada dirimu, bahkan ketika belum banyak orang yang melihat apa yang bisa kamu lakukan. Berani mengambil ruang, tetapi jangan lupa memberi ruang bagi orang lain. Kejar mimpimu, tetapi jangan sampai kehilangan dirimu sendiri di dalamnya. Dan ketika suatu hari kamu melihat perempuan lain berjalan lebih cepat darimu, ingatlah bahwa hidup bukan perlombaan dengan satu garis finis. Akan ada musim untuk berlari, musim untuk berhenti, dan musim untuk memulai kembali. Semuanya akan membentukmu dengan caranya masing-masing.
Your Love,
Astrid Suryatenggara
