Siapa sangka seorang Astrid Suryatenggara akhirnya menulis buku? Bagi saya menulis itu menyembuhkan. Menaruh kegelisahan dalam tulisan adalah cara paling mujarab untuk bersenang-senang. Maka untuk itulah saya menulis buku yang rencananya akan berjudul This Wasn’t The Plan. Saat ini buku ini masih proses penulisan, maka izinkan saya sedikit menceritakan isi dari buku yang sedang saya tulis ini.
Di sini saya ingin bercerita bahwa akan ada begitu banyak hal dalam hidup yang kita mulai dengan sebuah rencana. Kita membuat garis waktu, menetapkan tujuan, membayangkan seperti apa hidup akan berjalan. Namun, semakin jauh melangkah, kita sering menemukan bahwa hidup memiliki caranya sendiri untuk membawa kita ke tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan. This Wasn’t The Plan lahir dari ruang di antara rencana dan kenyataan itu—dari perjalanan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan, tetapi justru membentuk siapa kita hari ini.
Buku ini berisi kumpulan tulisan yang terbagi dalam empat musim. Bukan sekadar empat bagian dalam sebuah buku, tetapi empat fase perjalanan: tentang bertumbuh, kehilangan, menemukan kembali diri sendiri, dan belajar menerima bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai dengan apa yang pernah kita rencanakan. Setiap musim membawa cerita, pertanyaan, dan pelajaran yang berbeda—tentang keputusan yang pernah dibuat, jalan yang pernah dipilih, juga jalan yang akhirnya harus ditempuh meski tidak pernah ada dalam rencana awal.
Melalui tulisan-tulisan ini, saya ingin melihat kembali perjalanan hidup dengan cara yang lebih jujur dan utuh. Ada cerita tentang ambisi dan pekerjaan, tentang relasi dengan orang-orang yang hadir dan pergi, tentang menjadi seorang perempuan, seorang ibu, seorang pemimpin, dan tentang proses panjang memahami diri sendiri. Bukan untuk memberikan jawaban atas bagaimana seharusnya seseorang menjalani hidup, melainkan untuk berbagi bahwa di balik setiap pencapaian, selalu ada perjalanan yang tidak terlihat.
This Wasn’t The Plan juga menjadi sebuah catatan tentang menerima ketidaksempurnaan. Bahwa terkadang perubahan arah bukan berarti kita gagal mencapai tujuan. Bisa jadi, hidup sedang membawa kita menuju sesuatu yang lebih bermakna. Mungkin hidup memang bukan tentang memiliki rencana yang sempurna. Melainkan tentang keberanian untuk terus berjalan ketika rencana itu berubah. Setelah semuanya terlewati, kita akan menyadari: ternyata bukan hidup yang melenceng dari rencana. Mungkin inilah rencana yang selama ini sedang kita jalani.
