Setiap ada yang bertanya, apa yang ingin saya lakukan di masa lalu? Dan jika itu adalah dua puluh tahun lalu, saya mungkin akan berpikir bahwa karier adalah tentang seberapa cepat kita bisa naik, seberapa banyak pencapaian yang bisa kita kumpulkan, dan seberapa baik kita bisa membuktikan bahwa kita layak berada di tempat kita berdiri. Ingin terlihat capable, bisa diandalkan, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Hari ini, setelah melewati begitu banyak fase dalam hidup dan pekerjaan, saya mulai memahami bahwa karier bukan hanya tentang seberapa tinggi kita bisa pergi, tetapi juga tentang siapa diri kita ketika sampai di sana. Ada masa ketika pekerjaan menjadi begitu penting sampai kita lupa bahwa hidup tidak hanya berlangsung di ruang meeting, di balik layar laptop, atau di dalam sebuah jabatan. Seandainya saya bisa berbicara kepada diri saya 20 tahun lalu, saya ingin mengatakan: don’t rush to become successful. Take the time to become someone you respect.
Tidak Semua Kesempatan Harus Diambil
Dua puluh tahun saya mungkin melihat pintu yang tertutup sebagai sesuatu yang harus disesali. Hari ini saya tahu, beberapa pintu memang tertutup karena hidup sedang mengarahkan kita ke tempat yang belum bisa dilihat. Dalam perjalanan karier, kita akan mengalami promosi yang tidak datang, pekerjaan yang tidak sesuai harapan, proyek yang gagal, orang yang pergi, bahkan keputusan yang pada akhirnya harus kita tinggalkan.
Kita mungkin akan bertanya, “Apa yang salah dengan saya?” Padahal terkadang tidak ada yang salah. Hidup hanya sedang berubah arah. Saya belajar bahwa kemampuan untuk beradaptasi sering kali jauh lebih penting daripada kemampuan untuk selalu memiliki jawaban. Karena perjalanan profesional tidak dibentuk hanya oleh keberhasilan yang dirayakan, tetapi juga oleh berbagai hal yang memaksa kita belajar berdiri kembali.
Hal lain yang baru saya pahami adalah bahwa reputasi dibangun jauh lebih lama daripada pencapaian. Jabatan bisa berubah. Perusahaan bisa berubah. Industri bisa berubah. Bahkan title yang dulu terasa begitu penting pada akhirnya hanya menjadi satu baris dalam perjalanan hidup kita. Tetapi bagaimana orang mengingat kita—apakah kita bisa dipercaya, apakah kita memperlakukan orang dengan baik, apakah kita tetap bertanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana—itulah yang tinggal lebih lama.
Dalam perjalanan karier, saya semakin percaya bahwa leadership bukan tentang menjadi orang yang paling banyak bicara atau selalu menjadi orang yang paling tahu. Kadang leadership justru dimulai ketika kita cukup rendah hati untuk mendengarkan, cukup berani untuk berkata “saya salah”, dan cukup peduli untuk membuat orang lain merasa aman untuk bertumbuh bersama kita.
Cheers,
Astrid Suryatenggara
