Ada kehilangan yang tidak selalu punya waktu untuk diratapi. Pekerjaan yang tidak jadi kita dapatkan, hubungan yang harus berakhir, atau mimpi yang ternyata tidak sampai menjadi kenyataan. Kita sering menyebutnya “belum rezeki” atau “memang bukan jalannya”, lalu berharap bisa segera melangkah lagi. Padahal, ada bagian dari diri kita yang tetap perlu mengakui: ini menyakitkan. Ini pernah berarti.
Mungkin kita tidak selalu harus buru-buru baik-baik saja. Bersyukur dan berduka bisa hidup berdampingan. Karena kehilangan tidak hanya apa yang pergi, tetapi juga tentang apa yang sempat kita bayangkan akan terjadi. Dan mungkin, memberi ruang pada rasa sedih bukan berarti kita berhenti melangkah. Justru dari sana, perlahan kita belajar menerima bahwa tidak semua yang kita perjuangkan harus menjadi bagian dari akhir cerita.
