Ada satu kutipan dari buku The Kickass Single Mom karya Emma Johnson yang beberapa waktu lalu kembali mengingatkan saya pada perjalanan menjadi seorang ibu tunggal:
“Being a single mom is not a sentence to a life of struggle. It is an opportunity to design a life that is completely yours, defined by your own terms, strength, and joy.”
Bagi saya, kalimat ini menarik karena mengubah cara kita melihat sebuah keadaan. Menjadi ibu tunggal bukan berarti mendapatkan hukuman untuk menjalani hidup yang lebih sulit. Memang, ada banyak hal yang harus dihadapi sendiri. Ada keputusan yang tidak bisa ditunda, ada tanggung jawab yang tidak bisa dialihkan, dan ada masa ketika bekerja terasa lebih sebagai kebutuhan untuk bertahan hidup daripada ruang untuk mengejar passion.
Ketika anak-anak saya masih kecil, prioritas saya sederhana: bekerja, mencukupi kebutuhan mereka, dan memastikan mereka memiliki masa depan yang baik. Saya tidak terlalu banyak bertanya apakah pekerjaan yang saya jalani adalah sesuatu yang benar-benar saya sukai. Saat itu, bekerja adalah bagian dari tanggung jawab. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, perspektif berubah seiring waktu.
Kekuatan Bukan Tentang Melakukan Semuanya Sendiri
Menjadi single mother mengajarkan saya bahwa kekuatan bukan berarti mampu melakukan semuanya sendiri. Kekuatan lebih sering terlihat dalam hal-hal yang jauh lebih sederhana: tetap hadir ketika keadaan tidak mudah, mengambil keputusan ketika belum memiliki semua jawabannya, membangun kembali kehidupan ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang direncanakan, dan tetap menjadi diri sendiri di tengah begitu banyak tanggung jawab.
Ada anggapan bahwa perempuan yang kuat adalah perempuan yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Saya justru belajar sebaliknya.
Mengetahui kapan harus meminta bantuan adalah bentuk kesadaran. Kita perlu memahami batas kemampuan kita, mengenali apa yang benar-benar menjadi tanggung jawab kita, dan cukup dewasa untuk mengatakan, “Saya membutuhkan bantuan.” Itu bukan kelemahan. Itu adalah bagian dari menjadi manusia.
Dari Bertahan Hidup Menjadi Menemukan Passion
Saya menyadari bahwa saya menikmati proses membangun dan membimbing generasi yang lebih muda. Menariknya, peran itu saya temukan bukan hanya melalui anak-anak di rumah, tetapi juga melalui anak-anak yang saya temui di tempat kerja. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa menjadi seseorang yang mereka datangi untuk bertanya, berdiskusi, mendapatkan perspektif, atau sekadar menemukan tempat untuk pulang ketika mereka membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Mungkin di situlah motherhood dan leadership bertemu bagi saya. Keduanya membutuhkan kemampuan untuk mendengar, memberikan ruang, menetapkan batas, dan pada saat yang sama membiarkan orang lain tumbuh menjadi dirinya sendiri.
Tidak Semua Keputusan Bisa Menunggu Kepastian
Sebagai ibu, ada banyak keputusan yang harus dibuat. Dan tidak semuanya datang dengan jawaban yang jelas. Saya belajar bahwa kita tidak selalu bisa menunggu sampai semuanya pasti sebelum bergerak.
Ada kalanya kita harus mengambil keputusan berdasarkan informasi yang kita miliki saat itu, mempertimbangkan konsekuensinya, kemudian berani bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Bagi saya, ini adalah salah satu bentuk kekuatan yang paling nyata.
Bukan keberanian karena kita tidak takut salah, tetapi keberanian untuk tetap mengambil keputusan meskipun kita tahu bahwa tidak ada keputusan yang sepenuhnya bebas dari risiko.
Menjadi ibu mengajarkan saya bahwa tanggung jawab bukan tentang selalu mengetahui apa yang benar. Tanggung jawab adalah kesediaan untuk berdiri di belakang keputusan yang kita buat dan belajar jika ternyata kita perlu memperbaikinya.
Saya Tidak Ingin Ada Double Standard
Jika ada satu hal yang saya anggap sebagai bentuk keberhasilan saya sebagai ibu, mungkin bukan tentang pencapaian yang bisa dilihat dari luar. Bagi saya, sukses adalah ketika saya bisa membesarkan kedua anak saya menjadi laki-laki yang santun dan berpendidikan. Bukan hanya memiliki pendidikan formal, tetapi juga memiliki cara memperlakukan orang lain dengan baik, memahami tanggung jawab, dan memiliki nilai yang mereka pegang sendiri.
Untuk mencapainya, saya berusaha tidak menerapkan double standard.
Aturan yang saya berikan kepada anak-anak juga menjadi aturan yang saya coba terapkan kepada diri sendiri. Kalau saya meminta mereka bertanggung jawab atas pilihan mereka, saya juga harus bersedia bertanggung jawab atas pilihan saya. Kalau saya meminta mereka menghargai orang lain, saya juga harus menunjukkan hal yang sama.
Menjadi orang tua, pada akhirnya, bukan hanya tentang apa yang kita katakan kepada anak. Mereka juga belajar dari bagaimana kita menjalani hidup.