Penolakan tidak selalu datang dalam bentuk kata “tidak”. Kadang ia hadir dalam percakapan yang tak pernah dilanjutkan, kesempatan yang tiba-tiba berpindah arah, pintu yang tak kunjung terbuka, atau seseorang yang memilih diam ketika kita menunggu kejelasan. Tidak selalu ada penjelasan. Tidak selalu ada penutup yang rapi. Dan seiring waktu, saya belajar bahwa saya tidak membutuhkan semuanya untuk memahami sebuah keadaan.
Karena tidak semua hal perlu diperjuangkan sampai kita kehilangan diri sendiri. Ada saatnya kita membaca tanda, menerima kenyataan, lalu melangkah tanpa perlu meminta validasi dari sesuatu yang sudah memilih untuk tidak tinggal. Penolakan tidak menentukan nilai diri kita. Ia hanya memberi tahu bahwa jalan ini berhenti di sini. Dan saya cukup kuat untuk tidak mengetuk pintu yang sudah jelas tidak ingin dibuka.