hw herlab vol 2 90

Membangun Cerita yang Tidak Hanya Didengar

Pada 25 September 2026, saya berkesempatan hadir sebagai salah satu pembicara dalam HERLab Volume 2: Crafting a Storytelling Campaign, bersama Maria Angelica, Founder of Think of View. Sesi ini menjadi ruang untuk membicarakan sesuatu yang selalu dekat dengan pekerjaan saya: bagaimana sebuah gagasan dapat tumbuh menjadi cerita yang bukan hanya menarik untuk didengar, tetapi juga mampu terhubung, menggugah, dan meninggalkan makna bagi mereka yang menerimanya.

Pernahkah kamu menonton sebuah film, lalu tiba-tiba berpikir, “Ini aku banget”? Perasaan itu sebenarnya tidak hadir secara kebetulan. Di balik sebuah cerita yang terasa begitu dekat, selalu ada realitas manusia yang menjadi titik berangkatnya. Pengalaman tentang keluarga, kehilangan, harapan, hubungan, ambisi, bahkan hal-hal kecil yang kita jalani setiap hari, dapat menjadi bahan bakar bagi lahirnya sebuah cerita yang terasa nyata.

hw herlab vol 2 89

“Every movie always have a reflection of people. We always try to translate your life.”

Sebagai Chief Communication Officer PT MD Entertainment Tbk, saya melihat storytelling bukan sekadar bagaimana kita merangkai kata, membangun adegan, atau menciptakan sebuah kampanye yang terlihat menarik. Ada proses yang lebih dalam: bagaimana kita memahami manusia, menangkap apa yang mereka rasakan, lalu menerjemahkan realitas tersebut ke dalam sebuah cerita.

Bagi saya storytelling adalah tentang menangkap esensi kehidupan dan menerjemahkannya dengan jujur. Sebuah cerita yang baik tidak selalu harus memberikan jawaban. Terkadang, ia hanya perlu membuat seseorang merasa dilihat dan divalidasi. Membuat seseorang menyadari bahwa pengalaman yang ia jalani ternyata juga pernah dirasakan oleh orang lain. Dan mungkin, di situlah kekuatan sebuah cerita menemukan maknanya.

hw herlab vol 2 76

Diskusi di HERLab juga menjadi pengingat bahwa storytelling yang baik membutuhkan lebih dari sekadar cerita yang menarik. Kita perlu memahami siapa yang ingin kita ajak bicara, apa yang mereka rasakan, dan konteks apa yang membuat sebuah pesan menjadi relevan bagi mereka. Ketika hal-hal tersebut bertemu, sebuah campaign tidak lagi terasa seperti komunikasi satu arah, melainkan menjadi sebuah percakapan yang mampu menggugah dan meninggalkan makna.

Saya percaya bahwa setiap campaign memiliki cerita untuk disampaikan. Tantangannya adalah bagaimana kita menemukan cerita tersebut dan mengemasnya dengan cara yang tepat, sehingga bukan hanya terdengar, tetapi juga dirasakan dan diingat oleh audience. Coz Beyond the message: crafting stories that connect.

Related Articles